Senin, 15 Desember 2014

TIP & TIS

Apa yang menjadi kerangka fikiran anda? Dan bagaimana anda menyelesaikan masalah
TIP n TIS sebuah kerangka yang berbeda, TIP adalah singkatan dari Think in Problem dan TIS adalah Think in Solution. Ketika saya membawakan sebuah technical training mengenai problem solving di sebuah perusahaan, saya melihat beberap orang masuk ke dalam golongan TIP dan TIS, sebuah kelompok dapat menjelaskan 1 masalah dengan 1000 penyebab ini salah satu type TIP. Tetapi saya juga menemukan type yang memiliki cara berfikir 1 masalah 1 solusi bahkan sampai juga memiliki beberapa alternatif solusi lain.

Saya coba menguraikan TIP, type ini mempunyai 1001 alasan dalam menghadapi masalah. Saya tidak pernah menyalahkan type ini, mungkin juga type ini terbiasa dengan 5 why analysis ( sebuah metode mencari akar masalah ) sehingga ketika menghadapi masalah. Type ini dengan mudah beralasan, pernahkah anda meminta bantuan kepada seseorang, dan mungkin sering pula ketika anda meminta bantuan, orang tersebut mempunyai alasan yang sering anda sendiri sulit untuk menerima alasan tersebut.

Setelah type TIP saya akan menguraikan type TIS, type TIS mempunyai cara berfikir logis yang baik dan biasanya orang – orang ini sering menghadapi masalah. Sehingga type TIS dapat dengan mudah memberikan solusi ketika ia menghadapi masalah. Jika anda sebagai seorang pimpinan, anda akan lebih senang dengan type TIS, karena anda tidak perlu menguras tenaga ketika anda mendelegasikan pekerjaan. Lalu bagaimana dengan pekerja anda dengan type TIP, type TIP biasanya mempunyai kepercayaan diri yang kurang, type ini juga biasanya lebih tertutup. Salah satu cara untuk merubah type TIP adalah dengan lebih banyak berdiskusi dan membangkitkan rasa percaya dirinya. Dengan rasa percaya diri ini type TIP dapat lebih berani untuk mengambil tindakan dan berani untuk memikirkan solusi.

Salah satu contoh ketika saya memberikan training implementasi Program SAP kepada team, team menganggap ini masalah baru dan hanya mempersulit operasional, setelah meyakinkan mereka dengan keuntungan dan kemudahan program ini, rasa percaya diri mereka tumbuh dan hasilnya dengan mudah mereka menjalankan program sampai akhirnya mereka mahir dalam setiap proses bisnis.

Bagaimana dengan anda ? apakah anda TIP atau anda sudah menjadi TIS ? TIP dan TIS menjadi salah satu sub pokok dalam pelatihan “The Art of Leadership “

Salam Sukses Berkah


Aditya Nugraha
@agasheva_adit

0856 999 1346


Bagaimana tipe anda memimpin ?



Dewasa ini semakin banyak orang yang tertarik dengan pembahasan tentang kepemimpinan. Buku-buku yang membahas akan hal itu habis terjual. Seminar dan pembahasan mengenai kepemimpinan rasanya tidak akan ada habisnya. Semua orang berusaha mengidentifikasi pemimpin seperti apa dirinya tersebut. Bagi mereka yang ingin mencoba, atau setidaknya terinspirasi, berikut ini adalah beberapa tipe pemimpin yang bisa Anda lihat:

1. Adaptif

Dalam keadaan normal, mungkin saja tidak akan ada jawaban yang mudah, tapi setidaknya akan ada sebuah jawaban. Di saat krisis dan terjadi perubahan di mana-mana, seorang pemimpin harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dalam menjalankan bisnisnya. Seorang pemimpin yang adaptif dapat menyesuaikan diri dan perusahaan dengan keadaan yang dinamis, menyesuaikan nilai mereka dengan perubahan ya g terjadi, dan membantu bawahan mereka untuk dapat ikut menyesuaikan diri dan mengenali perubahan yang terjadi tanpa mengurangi kepercayaan bawahan tersebut kepada mereka. Contoh pemimpin adaptif yang dapat Anda lihat adalah Sam Palmisano dari IBM, dan Ford’s Alan Mulally.

2. Kecerdasan emosional

Seorang psikolog Daniel Goleman mengkorelasikan kepemimpinan yang sukses dengan kesadaran akan perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain. Pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional sangat bisa mengatur diri mereka sendiri dan hubungan mereka dengan orang lain, dan mereka juga seringkali merupakan orang yang sangat hebat dalam mempengaruhi (dalam arti yang baik). Semua orang dapat berlatih dan belajar untuk bisa cerdas secara emosional.

3. Karismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik dapat mempengaruhi orang lain untuk melewati kepemimpinan bersama dirinya. Sembilan puluh tahun yang lalu, sosiologis Max Weber menggambarkan otoritas kharismatik berasal dari karakter yang luar biasa, pejuang, dan kesucian. Dewasa ini, kharismatik lebih berhubungan dengan personality seseorang dan tampaknya susah untuk diajarkan. Seorang pemimpin yang kharismatik dapat menjadi motifator yang hebat dan seringkali membawa kesuksesan yang luar biasa bagi perusahaannya. Contoh pemimpin yang kharismatik adalah Theodore Roosevelt.

4. Authentic

Authenticity, seperti halnya passion, adalah sebuah kata yang sering digunakan. Tapi kata ini tetap masih terdengar fresh ketika mantan CEO dari Medtronic, Bill George menggunakan kata ini untuk menggambarkan pemimpin dengan integritas dan karakter. Itu di tahun 2003, dua tahun setelah runtuhnya Enron dan delapan tahun sebelum Medtronic, dibawah CEO yang lain, membayar lebih dari dua puluh tiga juta dollar untuk mengatur klaim untuk membayar kesalahan mereka. Hal ini menunjukan, seorang pemimipin yang memiliki keaslian, seperti James Goodnight dari perusahaan software raksasa SAS merupakan seorang bintang dari keteguhan dan disiplin.

5. “Level 5 leader”

Seperti yang digambarkan seorang pebisnis hebat Jim Collins, pemimpin level 5 mengejar tujuan dengan kegigihan seperti seekor singa dan kerendahan hati seperti seekor domba. Orang seperti ini sangat sulit dicari. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang murah hati, bertanggung jawab, dan meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Meskipun banyak entrepreneur yang dikatakan merupakan pemimpin level 5, yang perlu dilihat apakah mereka bisa menekan ego mereka sendiri dalam menjalankan perusahaan atau tidak.

6. Mindful leader

Terlalu banyak pemimpin yang menjalani kepemimpinan mereka berdasarkan pada asumsi lama dan aturan-aturan yang tidak praktis. Jika pemimpin tersebut memberikan perhatian pada lingkungan mereka, memperhatikan, menganalisa dan yang paling penting, mendengarkan orang lain, maka mereka akan menanyakan pertanyaan yang lebih pintar, dapat mendeteksi perubahan yang terjadi, dan dapat menjadi pelajar yang lebih baik. Kesadararan ini akan lebih mudah dilakukan oleh para pemimpin muda, yang belum tercemar oleh pemikiran-pemikiran lama dan kebiasaan-kebiasaan lama. Tapi perusahaan raksasa juga seringkali melahirkan pemimpin-pemimpin yang mindful.

7. Narsisme

Diluar para pemimpin yang hebat, terdapat juga beberapa pemimpin yang tidak patut dicontoh. Beberapa diantaranya adalah pemimpin yang terlalu mencintai dirinya sendiri, atau yang biasa kita kenal dengan nama pemimpin yang narsis. Pemimpin yang narsis tidak mendengarkan orang lain, tidak ingin belajar, tidak ingin mengajar, dan tidak suka jika ada pendapat yang berbeda dari pendapat mereka. Tapi tidak semua pemimpin yang narsis itu buruk. Psikoanalisis Michael Maccoby menggambarkan satu tipe narsis yang tidak terlalu buruk. Contoh pemimpin seperti ini adalah Bill Gates dan Andy Grove. Mereka adalah pemimpin yang visionaris, dan mampu membawa orang-orang mengikuti visi yang mereka buat. Tipe pemimpin seperti ini ternyata memiliki pendamping yang mampu menutupi kekurangan mereka, dan tetap menjaga mereka utnuk rendah hati.

8. ”No-excuse” leadership

Kemiliteran tampaknya merupakan suatu tempat yang memiliki pembelajaran kepemimpinan yang tinggi dan tidak pernah berakhir. Kepemimpinan yang “no-excuse” merupakan tipe kepemimpinan yang biasanya terdapat di dunia militer. Tipe kepemimpinan ini akan mampu membuat keputusan dengan cepat, bersikap tegas dan keras, dan menunjukan mental yang kuat. Ini merupakan suatu kebetulan ketika penelitian di tahun 2006 menunjukan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh mantan militer mengungguli S&P 500, dan pemimpin tersebut bertahan lebih lama dalam pekerjaan mereka. Contoh pemimpin ini adalah Frederick Smith, mantan angkatan laut yang menjalankan FedEx selama lebih dari 40 tahun.

9. Menular

Richard Boyatzis dan Annie McKee menyebutkan bahwa emosi itu menular: Moral seseorang dapat naik dan turun sesuai dengan mood dari sang pemimpin. Pemimpin yang positif dan bersemangat dapat menularkan hal itu kepada bawahan mereka dan menularkan antusiasme yang positif dalam perusahaan. Merupakan hal yang penting untuk diingat bahwa Anda harus dengan cermat menghitung dan merancang perusahaan Anda, dan seberapa banyak hal itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi Anda. Seorang pemimpin harus mampu memisahkan permasalahan pribadi dari kehidupan profesional mereka.

10. Melayani

Pemimpin tipe ini adalah pemimpin yang bersedia untuk melayani bawahannya, tidak tertutup pada batasan jabatan. Pemimpin tipe ini akan bersedia untuk pertama kali melayani, dan bersedia menjadi contoh agar bawahan mereka dapat bekerja dengan lebih baik. Tipe-tipe pemimpin ini adalah mereka yang memiliki empati yang besar, peduli, dan mau menyembuhkan.

11. Storyteller

Seorang pemimpin harus mampu bercerita: tentang dirinya sendiri, tentang perusahaan, tentang apa yang dilakukan pegawai mereka, dan tentang apa yang akan dilakukan mereka di masa depan. Menceritakan cerita membangkitkan emosi yang tidak dapat dibantah siapapun juga. Tidak heran, jika tipe pemimpin seperti ini banyak terdapat dan cocok untuk para entrepreneur, karena para entreprenur membangun sendiri cerita mereka, dan merekalah yang benar-benar mengerti cerita mereka.

Terima kasih kepada para klien yang telah memberikan kepercayaan atas beberapa kelas Leadership in Productivity di beberapa perusahaan, Semoga kami dapat selalu memberikan yang terbaik. 

In House Training: Leadership & Productivity Cilegon

Workshop & Outbond: Leadership 

Executive Briefing: Lean with Great Leaders Medan





Salam Sukses Berkah


Aditya Nugraha
08569991346




Bersyukur

Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.
Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.
1.     Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
2.     Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.
Lalu apa manfaat Feeling Good?
·         Jika Anda yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan Anda menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
·         motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif .Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus pada hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
·         Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.
Cara Meningkatkan Syukur

Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.
·         Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
·         Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.

·         Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syukurilah.


The Powerfull of TOC

Semangat Pagi  

Teori Kendala atau Theory Of Constraints (TOC) merupakan sebuah filosofi manajemen yang mula-mula dikembangkan oleh Eliyahu M. Goldratt dan dikenalkan dalam bukunya, The Goal. Dapat diartikan bahwa TOC adalah suatu pendekatan ke arah peningkatan proses yang berfokus pada elemen-elemen yang dibatasi untuk meningkatkan output. Hal ini berdasarkan fakta bahwa, seperti sebuah rantai dengan link yang paling lemah, dalam beberapa system yang kompleks pada waktu tertentu, sering terdapat satu aspek dalam system yang membatasi kemampuannya untuk mencapai lebih banyak tujuannya. Usaha yang berfokus pada masalah dapat meningkatkan atau memaksimumkan kembali inisiatif yang ada. agar system tersebut mencapai kemajuan yang signifikan, hambatannya perlu untuk diidentifikasi dan keseluruhan system perlu diatur. Sesekali elemen proses yang dibatasi diperbaiki, link paling lemah yang berikutnya dapat ditujukan dalam suatu pendekatan iterative.




TOC adalah suatu filosofi manajemen yang membantu sebuah perusahaan dalam meningkatkan keuntungan dengan memaksimalkan produksinya dan meminimalisasi semua ongkos atau biaya yang relevan seperti biaya simpan, biaya langsung, biaya tidak langsung, dan biaya modal.


Penerapan TOC lebih terfokus pada pengelolaan operasi yang berkendala sebagai kunci dalam meningkatkan kinerja sistem produksi, nantinya dapat berpengaruh terhadap profitabilitas secara keseluruhan.


Menurut Hansen dan Mowen, jenis kendala dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  • Berdasarkan asalnya
  1. Kendala internal (internal constraint) adalah faktor-faktor yang membatasi perusahaan yang berasal dari dalam perusahaan, misalnya keterbatasan jam mesin. Kendala internal harus dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan throughput semaksimal mungkin tanpa meningkatkan persediaan dan biaya operasional.
  2. Kendala eksternal (external constraint) adalah faktor-faktor yang membatasi perusahaan yang berasal dari luar perusahaan, misalnya permintaan pasar atau kuantitas bahan baku yang tersedia dari pemasok. Kendala eksternal yang berupa volume produk yang dapat dijual, dapat diatasi dengan menemukan pasar, meningkatkan permintaan pasar ataupun dengan mengembangkan produk baru.
  • Berdasar sifatnya
  1. Kendala mengikat (binding constraint) adalah kendala yang terdapat pada sumber daya yang telah dimanfaatkan sepenuhnya.
  2. Kendala tidak mengikat atau kendur (loose constraint) adalah kendala yang terdapat pada sumber daya yang terbatas yang tidak dimanfaatkan sepenuhnya.
Selain itu Kaplan dan Atkinson menambahkan pengelompokan kendala dalam tiga bagian yaitu:
  1. Kendala sumberdaya (resource constraint). Kendala ini dapat berupa kemampuan factor input produksi seperti bahan baku, tenaga kerja dan jam mesin.
  2. Kendala pasar (market resource). Kendala yang merupakan tingkat minimal dan maksimal dari penjualan yang mungkin selama dalam periode perencanaan.
  3. Kendala keseimbangan (balanced constraint). Diidentifikasi sebagai produksi dalam siklus produksi.
Theory of Constraint(TOC) mengakui bahwa kinerja setiap perusahaan dibatasi oleh kendala-kendalanya, yang kemudian mengembangkan pendekatan kendala untuk mendukung tujuan, yaitu kemajuan terus-menerus suatu perusahaan (continious improvement). Teori ini memfokuskan diri pada tiga ukuran yaitu:
  1. Throughput, adalah suatu ukuran dimana suatu perusahaan menghasilkan uang melalui penjualan.
  2. Persediaan, adalah semua dana yang dikeluarkan perusahaan untuk mengubah bahan baku mentah melalui throughput. Bahan persediaan dalam TOC merupakan semua aktiva yang dimiliki dan terrsedia secara potensial untuk penjualan.
  3. Biaya-biaya operasional, yang dikeluarkan perusahaan untuk mengubah persediaan menjadi throughput. Biaya operasi ini terjadi untuk mendukung dan mengoptimalkan throughput dalam kendala.
TOC memiliki argumen bahwa penurunan persediaan akan meningkatkan daya saing perusahaan, karena dengan menurunkan persediaan, akan diperoleh produk yang lebih baik, harga yang lebih rendah, dan tanggapan yang lebih cepat terhadap kebutuhan pelanggan
Penerapan TOC dapat membantu manajer dalam meningkatkan laba dan juga penjualan produk atau jasa yang berkualitas serta pemenuhan permintaan yang tepat waktu sehingga perusahaan mampu beroperasi secara efisien dan efektif.

5 (Lima) Langkah dalam TOC

Dalam mengimplementasikan ide-ide sebagai solusi dari suatu permasalahan, Goldratt mengembangkan 5 (lima) langkah yang berurutan supaya proses perbaikan lebih fokus dan berakibat lebih baik bagi sistem. Langkah-langkah tersebut adalah:
  1. Identifikasi konstrain sistem (identifying the constraint). Mengidentifikasi bagian system manakah yang paling lemah kemudian melihat kelemahanya apakah kelemahan fisik atau kebijakan. 
  2. Eksploitasi konstrain (exploiting the constraint). Menentukan cara menghilangkan atau mengelola constraint dengan biaya yang paling rendah.
  3. Subordinasi sumber lainnya (subordinating the remaining resources). Setelah menemukan konstrain dan telah diputuskan bagaimana mengelola konstrain tersebut maka harus mengevaluasi apakah kostrain tersebut masih menjadi kostrain pada performansi system atau tidak. Jika tidak maka akan menuju ke langkah kelima, tetapi jika yam aka akan menuju ke langkah keempat.
  4. Evaluasi konstrain (Elevating the constraint). Jika langkah ini dilakukan, maka langkah kedua dan ketiga tidak berhasil menangani konstrain. Maka harus ada perubahan besar dalam sistem, seperti reorganisasi, perbaikan modal, atau modifikasi substansi system.
  5. Mengulangi proses keseluruhan (repeating the process). Jika langkah ketiga dan keempat telah berhasil dilakukan maka akan mengulangi lagi dari langkah pertama. Proses ini akan berputar sebagai siklus. Tetap waspada bahwa suatu solusi dapat menimbulkan konstrain baru perlu dilakukan.
Selain memperhatikan lima tahap penerapan TOC diatas, perlu diperhatikan pula sepuluh prinsip dasar TOC. Kesepuluh prinsip dasar tersebut adalah:
  1. Seimbangkan aliran produksi, bukan kapasitas produksi. Diasumsikan perusahaan memiliki kapasitas tidak seimbang dengan jumlah permintaan pasar (demand) karena keseimbangan kapasitas menghambat pencapaian tujuan (goal) perusahaan.
  2. Tingkat utilitas non bottleneck tidak ditentukan oleh potensi stasiun kerja tersebut tetapi oleh stasiun kerja bottleneck atau sumber kritis lainnya. Hanya stasiun kerja yang mengalami bottleneck yang perlu dijalankan dengan utilitas 100 %.
  3. Aktivitas tidak selalu sama dengan utilitas. Menjalankan non bottleneck dapat mengakibatkan bertumpuknya work in process (buffer) dalam jumlah yang berlebihan.
  4. Satu jam kehilangan pada bottleneck merupakan satu jam kehilangan sistem keseluruhan.
  5. Satu jam penghematan pada non bottleneck merupakan suatu fatamorgana.
  6. Bottleneck mempengaruhi throughput dan inventory.
  7. Batch transfer tidak selalu sama jumlahnya dengan batch proses.
  8. Batch proses sebaiknya tidak tetap (variabel).
  9. Penjadwalan (kapasitas & prioritas) dilakukan dengan memperhatikan semua kendala (constraint) yang ada secara simultan.
  10. Jumlah optimum lokal tidak sama dengan optimum keseluruhan (total). Pengukuran performansi dilihat sebagai satu kesatuan berdasarkan pemasukan bahan baku dan hasil produk jadi.
Hubungan TOC dan JIT (Just In Time)

Tujuan utama seorang manajer menggunakan JIT dalam perusahaan yaitu untuk mengurangi waktu yang digunakan produk dalam pabrik. Jika total produksi turun, maka akan terjadi penurunan pula pada biaya, hal ini dikarenakan lebih sedikitnya persediaan yang harus dibiayai, disimpan, dikelola, dan diamankan. Dengan JIT, waktu dapat diminimalisasi terhadap throughput produk yaitu total produksi sampai pada saat barang dikirim. Oleh karena itu, waktu throughput (throughput time) merupakan jumlah dari waktu proses, waktu tunggu, waktu pemindahan, waktu inspeksi. Yang merupakan waktu throughput yang mencakup penurunan persediaan dalam proses, akan mengarahkan pada hal-hal berikut ini:
  • Menurunkan biaya modal dalam persediaan.
  • Mengurangi biaya overhead untuk pemindahan bahan.
  • Mengurangi resiko keusangan.
  • Meningkatkan daya tanggap bagi pelanggan dan mengurangi waktu pengiriman.

Theory of Constraints (TOC) dan Activity Based Costing (ABC)


Pendekatan TOC beranggapan bahwa biaya operasional sulit untuk diubah dalam jangka pendek, sehingga TOC tidak mengidentifikasikan aktivitas-aktivitas individual dan penggerak biaya. Oleh karena itu, TOC kurang berguna untuk mengelola biaya dalam jangka panjang. Di lain sisi, activity-based costing (ABC) mempunyai perspektif jangka panjang yang memfokuskan pada peningkatan proses dengan mengeliminasi aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah dan mengurangi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh aktivitas yang bernilai tambah. Oleh karena itu, ABC lebih berguna untuk perencanaan profit, pengendalian biaya dan penetapan harga jangka panjang.



ABC dan TOC sama-sama digunakan untuk menetapkan profitabilitas produk. Namun keduanya juga memiliki perbedaan yaitu ABC mengembangkan suatu analisis jangka panjang yang meliputi semua biaya produk. Sedangkan TOC mengambil pendekatan jangka pendek untuk analisis profitabilitas karena teori ini hanya berdasarkan pada biaya-biaya yag berkaitan pada bahan. ABC menyediakan suatu analisis komprehensif dari penggerak biaya (cost driver) dan biaya unit yang akurat, sebagai suatu dasar untuk pengambilan keputusan strategis mengenai harga dan bauran produk dalam jangka panjang. Sebaliknya TOC menyediakan suatu metode yang berguna untuk meningkatkan profitabilitas jangka pendek melalui penyesuaian bauran produk untuk jangka pendek dan melalui perhatian pada hambatan-hambatan produksi. Keunggulan ABC adalah memusatkan perhatian pada kegiatan (aktivitas), yaitu apa yang dilakukan oleh tenaga kerja dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. ABC umumnya digunakan oleh perusahaan dengan menggunakan metode manajemen biaya seperti biaya target (target costing) dan TOC.

Dalam implementasi TOC, yang harus di perhatikan adalah konsistensi seluruh pihak, update data secara berkala berguna memberikan akurasi yang sangat baik dan efisien. Jangan pernah ragu untuk berdiskusi dengan saya.

Salam Sukses Berkah


Aditya Nugraha
@agasheva_adit
08569991346



Rabu, 26 November 2014

How to be a Best Result ?

Semangat Pagi

Result atau sering juga kita sebut dengan GOAL, bagaimana anda mendapatkan hasil yang maksimal untuk meraih sebuah kesuksesan pribadi ataupun organisasi?

Informasi. Fokus. Action. Inilah tiga komponen yang sangat efektif dalam mendorong peningkatan kinerja - terutama ketika mereka disinergikan secara seimbang! Berikut alasannya. 
Hasil alias Result menurut sifatnya adalah sesuatu yang berakar di masa lalu. Jadi daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengelola "hasil", IFA menekankan tiga faktor yang lebih berwawasan ke depan yang mendorong hasil tersebut, atau driver:
  • Informasi (dasar untuk keputusan yang efektif)
  • Fokus (membuat keputusan yang efektif)
  • Action (mengubah keputusan menjadi hasil)
Berikut ini adalah contoh sederhana. Bayangkan Anda adalah seorang pilot dan itu tugas Anda untuk terbang dengan aman dan selamat bersama penumpang dari Chicago ke London. Dalam masing-masing tiga skenario berikut ada masalah IFA yang akan mencegah Anda dari mencapai sasaran Anda:
  • Alat pengukur yang akurat atau rusak (masalah Informasi)
  • Alat pengukur yang akurat tetapi Anda tidak menggunakannya (masalah Fokus)
  • Alat pengukur yang akurat dan Anda melihat mereka, tetapi Anda tidak melakukan penyesuaian terhadap kontrol penerbangan (masalah Action) 
Dengan kata lain, ketiga elemen (Informasi, Fokus, dan Action) diperlukan untuk mencapai hasil yang baik. Bahkan , IFA juga dapat dinyatakan dengan persamaan :
I x F x A = R
Persamaan IFA ini juga mengakui bahwa ketiga faktor harus hadir dan seimbang untuk mencapai hasil yang optimal. Jika faktor apa saja yang hilang atau suboptimal akan sangat sulit untuk mencapai hasil yang baik.
Sementara itu, kami akan senang untuk membahas topik ini dengan Anda secara langsung di perusahaan Anda. Ini adalah salah satu topik mutlak perbaikan kinerja perusahaan yang jadi favorit kami - karena itu salah satu dari yang paling sederhana, paling kuat, dan efektif untuk meningkatkan kinerja. ( dikutip dari SHIFT Indonesia )

Sahabatku yang selalu berkah, mari kita raih hasil yang terbaik untuk meraih kehidupan yang berkah


Salam Sukses Berkah


Aditya Nugraha
Trainer Sukses Berkah
08569991346
7c9fb461

Selasa, 18 November 2014

Soft Skill untuk Lean Manufacturing

Banyak sahabat saya menanyakan kepada saya saat beralih profesi menjadi seorang trainer, saya banyak mempelajari soft skill untuk menyeimbangkan technical training yang saya berikan

Untuk menggerakan seseorang melakukan sebuah perbaikan, kita dapat membangun mentalnya untuk siap berubah. Terinspirasi tulisan Mark Graban di blognya yang berjudul More Trust, Less Fear, pakar Lean Wiljeana Glover mengemukakan tentang kebiasaan para praktisi dan pakar mengabaikan pentingnya arti soft skill dalam implementasi metode Lean di organisasi. Menurutnya, lebih mudah mendeskripsikan dan menonjolkan pentingnya kemampuan teknis dibandingkan soft skilluntuk kesuksesan implementasi Lean. Berikut beberapa alasannya:
Makna “Soft Skill” Masih Bias
Ketika mendengar kata “soft skill”, beberapa orang akan langsung terbayang mengenai sesuatu yang lunak, fleksibel, sulit diukur dan didefinisikan dengan pasti. Seperti ini:
SHIFT SSCX soft skill lean six sigma
Namun, menurut Glover, seharusnya inilah yang orang pikirkan ketika mendengar kata “soft skill” (fondasi yang kokoh untuk menopang bangunan di atasnya):
SHIFT SSCX soft skills lean six sigma foundation

Inilah dasar pemikiran Glover:
Soft skill” dapat dideskripsikan sebagai kemampuan sosial dan motivasional, perilaku dan kemampuan dari seseorang atau suatu kelompok untuk melaksanakan tugas. Kebiasaan yang berkembang di lingkungan profesional kita, menurut Glover, adalah menempatkan “soft skill” (seperti kepercayaan diri, integritas, keyakinan, empati, adaptabilitas, dan kemampuan kontrol diri) di tempat kedua setelah kemampuan teknis, alias kurang penting. Kenyataannya, para praktisi dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu telah menemukan bahwa ternyata soft skillmemiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja proses/pekerjaan apapun yang melibatkan manusia.
Contohnya, sistem sosioteknikal (STS) yang belakangan ini berkembang di organisasi menekankan pentingnya optimasi yang setara antara tugas atau lingkungan teknis dengan sistem sosial yang ada di organisasi. Sistem sosioteknikal sendiri dalam konteks pengembangan organisasi adalah pendekatan untuk perancangan kerja organisasional yang kompleks, yang membutuhkan interaksi antara manusia dengan teknologi di tempat kerja.
Sayangnya, dampak “soft skill” atas kesuksesan inisiatif Lean belum sepenuhnya dipahami.
Menurut opini Glover, mayoritas orang sudah memahami pentingnya soft skill, bahkan mereka paham bahwa soft skill kadang lebih penting dari kemampuan teknis. Namun implementasi dari pemahaman inilah yang masih sulit. Pasalnya, soft skill adalah sesuatu yang sulit untuk ditumbuh-kembangkan, diukur, dan sebagainya. Akibatnya, kita sering lebih memilih untuk mengabaikannya.
Penyebab kedua istilah soft skill sering dianggap telalu abstrak. Untuk mengatasinya, Glover menyarankan untuk menetapkan istilah-istilah untuk mendefinisikan kemampuan-kemampuan tersebut dalam bahasa organisasi walaupun definisi yang umum (seperti kepercayaan diri, integritas, dan sebagainya) sebaiknya tetap dipakai.
 dikutip dari SHIFT Indonesia

Senin, 03 November 2014

MEA Bencana atau Berkah ?

Asean Free Trade Area (AFTA) 2015 dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata. Banyak peluang dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia menjelang AFTA dan MEA. Era perdagangan kawasan ASEAN (AFTA) yang bakal berlangsung mulai 2015, menjadi tantangan serius bagi perusahaan dalam mengoptimalisasi sumber daya, kinerja, sistem manajemen, dan teknologi informasi.
Para pemimpin negara-negara ASEAN telah sepakat untuk mentransformasi wilayah ASEAN menjadi kawasan bebas aliran barang, jasa, investasi, permodalan, dan tenaga kerja. MEA menggambarkan adanya perekonomian yang mengglobal di antara negara-negara ASEAN dan MEA dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi di kawasan regional ASEAN.
Sedangkan AFTA, sejatinya merupakan kesepakatan diantara negara-negara ASEAN untuk membentuk kawasan bebas perdagangan. Tujuan utamanya untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan bisnis ASEAN di kancah dunia. Harapannya, jika AFTA sukses, negara-negara ASEAN bisa menjadi basis produksi dunia, seperti Cina. Coba cek koleksi barang elektronik anda di rumah. Berapa banyak yang berlabel ‘Made in China’?
Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas AFTA ini, nantinya tidak akan ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%), ataupun hambatan non-tarif untuk negara anggota ASEAN. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.
Perkembangan terakhir terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015. Dengan adanya kebijakan-kebijakan terkait AFTA, tentu akan menyusul tantangan serta peluang yang akan dihadapi negara Indonesia, khususnya di sisi bisnis dan ekonomi. Pertanyaannya, siapkah kita?
Tantangan AFTA 2015 Bagi Indonesia
Sebelum membahas mengenai keuntungan, ada baiknya terlebih dahulu kita melihat tantangan yang ada, agar dapat mempersiapkan diri. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, tantangan-tantangan ini akan memberikan dampak khusus kepada pertumbuhan bisnis dan ekonomi Indonesia. Dengan mengetahuinya, kita akan mampu menentukan sikap dan melakukan persiapan.
Tantangan Inovasi Teknologi
AFTA menjadi tantangan serius bagi perusahaan dalam mengoptimalisasi teknologi informasi. Hal senada diungkapkan Presiden Direktur IBM Indonesia, Gunawan Susanto, Juni lalu. Salah satu tantangan yang sudah menanti dalam AFTA, kata Gunawan, yakni masuknya perusahaan teknologi dunia yang menyerang pasar di Indonesia. Untuk itu, perusahaan Indonesia harus mewaspadai.
“Perusahaan asing sudah mulai bikin warehouse di sini, produk e-commerce mereka juga sudah masuk, ini akan jadi ancaman bagi perusahaan kita,” ujar dia.
Gunawan mencontohkan datangnya aplikasi Uber, yang mulai mengusik pengusaha dan sopir taksi.  Hal itu, merupakan contoh nyata tantangan.
“Sekarang tren bisnis makin personal dan mobile. Perusahaan jualan produk sudah sangat personal dengan analitik sosial, untuk itu perusahaan harus bergerak. Jangan nunggu nanti, karena AFTA sudah tinggal tahun depan,” jelasnya.
Tantangan tersebut makin intens karena tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang telah menyadari pentingnya inovasi dalam teknologi dan informasi. Menurutnya, tren inovasi perangkat mobile, jejaring sosial, analitik data, dan komputasi awan menjadi tantangan perusahaan dalam era perdagangan AFTA.
“Perusahaan Indonesia sudah mulai memikirkan ke arah AFTA 2015. Beberapa level kepala bidang sebuah perusahaan sadar akan kunci inovasi teknologi,” jelas Gunawan. Ia menyatakan, selama beberapa bulan berdialog dengan beberapa pengambil keputusan di banyak perusahaan, mereka sudah mulai mengeksplorasi infrastruktur teknologi.
“Saya cukup terkejut, saat beberapa kepala komersil perusahaan mulai bertanya soal SaaS(software as a service) dan komputasi awan,” ungkapnya. Fakta tersebut menunjukkan makin luasnya kesadaran perusahaan akan pentingnya infrastruktur teknologi bagi peningkatan kinerja perusahaan.
Gunawan melihat, cara pandang perusahaan atas tantangan teknologi tidak jauh berbeda dengan gambaran perusahaan di tingkatan global. Menurut studi yang dilakukan IBM, tujuh dari 10 perusahaan yang disurvei memahami infrastruktur IT punya peranan penting dalam kompetisi atau mengoptimalisasi keuntungan dan pendapatan. Dari kebanyakan responden, 62 persen perusahaan sudah berencana meningkatkan belanja infrastruktur IT untuk 12 hingga 18 bulan ke depan.
Tantangan Perdagangan
Bukan rahasia umum bahwa Indonesia masih berpredikat sebagai negara pengimpor, alih-alih pengekspor. Mengapa Indonesia sampai saat ini masih sebatas sebagai pasar bagi produk dari negara-negara ASEAN yang lain?
Pertama, karena penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah 231,3 juta jiwa merupakan 39% dari total penduduk ASEAN. Kelas menengah Indonesia saat ini juga berjumlah sekitar 100 juta orang. Tentu ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi negara-negara ASEAN lain.
Kedua, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang saat ini sebesar 846 miliar dolar AS juga merupakan 40,3% PDB total negara-negara ASEAN. Ini juga merupakan indikasi pasar potensial yang terbesar.

Ketiga, masyarakat kelas menengah dan atas Indonesia sudah terkenal sebagai masyarakat yang konsumtif. Ini terlihat misalnya orang Indonesia rata-rata memiliki lebih dari satu smartphoneatau tablet. Berbeda misalnya dengan masyarakat Jepang yang terkenal dengan sifat hematnya. Indikasi yang jelas dari Indonesia sebagai pasar saja adalah selalu defisitnya neraca perdagangan internasional Indonesia dengan negara-negara ASEAN sejak tahun 2005.
Sebetulnya, pekerjaan rumah bagi para pengusaha di Indonesia adalah bagaimana memenangkan preferensi pasar atas produk asli Indonesia, baik pasar domestik, ASEAN, maupun internasional. Pengusaha dan produsen Indonesia dituntut terus menerus dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan bisnis secara efektif dan maksimal. Disinilah kualitas produk Indonesia diuji, dan perusahaan Indonesia harus bisa mengubah pola pikir dari “product oriented” menjadi “customer oriented” untuk memenangkan preferensi pasar.
Hal senada diutarakan Profesor Rika Fatimah, Ph.D., dari Universitas Kebangsaan Malaysia, yang menyoroti pentingnya mengembangkan pola pikir berwawasan MEA dan kesiapan kewirausahaan melalui social business. Rika mengatakan, “Ada 4 MEA mindset yang harus dikembangkan, yaitu: stakeholders, kesiapan menghadapi MEA 2015, kesiapan sumberdaya manusia, serta ketahanan dalam menjalankan kewirausahaan, di mana keempat faktor tersebut akan menopang social business yang merupakan salah satu model untuk mendukung kegiatan kewirausahaan.”
Namun bukan berarti Indonesia tinggal diam. Menurut Associate Profesor Ruhul Salim, Ph.D. dari Curtin Business School, Australia, Indonesia menempati posisi penting di MEA sebagai produsen otomotif terbesar kedua di ASEAN. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perusahaan Jepang dan Korea yang memproduksi kendaraan di Indonesia. Bahkan, perusahaan ternama General Motors mulai memproduksi kendaraan di Indonesia sejak 2013. Namun investasi semacam ini juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan infrastruktur yang baik.
“Pada masa krisis ekonomi global 2009, sektor otomotif Indonesia nyaris tidak tersentuh oleh efek krisis tersebut. Kemudian jika Indonesia ingin memimpin pasar ASEAN apa yang harus dilakukan? Hal ini tergantung pemerintah. Pemerintah Indonesia harus membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung implementasi AFTA dan MEA,” jelas Ruhul.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Indonesia punya keuntungan demografi, geografi, dan lainnya dan banyak sekali komiditi yang bisa diandalkan dan dipersiapkan untuk bersaing dalam AFTA. Bonus demografi adalah arti struktur penduduk Indonesia dari sisi usia adalah Piramida Penduduk Muda, Hal ini menunjukkan usia penduduk muda lebih banyak dari pada penduduk dewasa, jumlah penduduk bertambah dengan cepat.
Berdasarkan sensus tahun 2010 0leh BPS pusat, didapatkan piramida di atas, dengan ringkas piramida penduduk Indonesia adalah :
  1. 0-14 laki-laki 34.276.146 / wanita 33.094.836 (27,73%) atau 1,98% per 1 tahun usia
  2. 15-64 laki-laki 80.806.409 / wanita 80.065.855 (66,21%) atau 1,35% per 1 tahun usia
  3. 65 keatas laki-laki 6.504.559 / wanita 8.220.537 (6,06%)
Total    laki-laki 121.587.114 / Wanita   121.381.228 (100,00%)
Persentase usia yang masih bisa produktif adalah sebesar 66,21% dan per satu tahun usia pada usia muda adalah 1,98% lebih besar dari 1,35% pada usia produktif.
Perusahaan dapat memanfaatkan keuntungan demografis ini dengan mengembangkan kualitas sumber dayanya, mengiringi kuantitasnya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pendidikan akan memberikan angkatan kerja yang produktif dan mampu menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi.
Selain pendidikan dan pelatihan, komitmen karyawan bagi perusahaan juga sangat penting. Jangan sampai SDM yang memiliki potensi dan bakat lebih memilih untuk bekerja di perusahaan asing karena merasa di perusahaan asing mereka bisa bekerja lebih nyaman dan terjamin.
Hal ini disampaikan Setyabudi Indartono, Ph.D. yang merupakan pakar di bidang sumber daya manusia. Beliau mengatakan, “Perlakuan yang berbeda terhadap karyawan akan mempengaruhi perilaku dan kinerja mereka terhadap organisasi. Di samping itu perlu juga diperhatikan cara organisasi dalam mengatur sumber daya manusia agar karyawan memiliki komitmen terhadap organisasinya.”
Optimasi di bidang sumber daya dan kualitas produk akan secara signifikan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara penghasil produk, yang mampu menyediakan produk berkualitas bagi negara-negara di lingkup ASEAN maupun global. Dengan memaksimalkan potensi penyerapan produk Indonesia, kita akan bisa merasakan AFTA sebagai sebuah win-win solutionbagi kemajuan perekonomian Indonesia dan ASEAN.***RW

1000 Pekerja SMART

Terinspirasi dengan 10 tahun berkarya di tahun 2015, dengan bangga saya mempersembahkan sebuah program 1000 Pekerja SMART. Sebuah program inhouse training tanpa biaya yang akan diberikan oleh saya sendiri dengan profil sebagai berikut :





https://www.youtube.com/watch?v=4XFNmN84bOU