Rabu, 26 November 2014

How to be a Best Result ?

Semangat Pagi

Result atau sering juga kita sebut dengan GOAL, bagaimana anda mendapatkan hasil yang maksimal untuk meraih sebuah kesuksesan pribadi ataupun organisasi?

Informasi. Fokus. Action. Inilah tiga komponen yang sangat efektif dalam mendorong peningkatan kinerja - terutama ketika mereka disinergikan secara seimbang! Berikut alasannya. 
Hasil alias Result menurut sifatnya adalah sesuatu yang berakar di masa lalu. Jadi daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengelola "hasil", IFA menekankan tiga faktor yang lebih berwawasan ke depan yang mendorong hasil tersebut, atau driver:
  • Informasi (dasar untuk keputusan yang efektif)
  • Fokus (membuat keputusan yang efektif)
  • Action (mengubah keputusan menjadi hasil)
Berikut ini adalah contoh sederhana. Bayangkan Anda adalah seorang pilot dan itu tugas Anda untuk terbang dengan aman dan selamat bersama penumpang dari Chicago ke London. Dalam masing-masing tiga skenario berikut ada masalah IFA yang akan mencegah Anda dari mencapai sasaran Anda:
  • Alat pengukur yang akurat atau rusak (masalah Informasi)
  • Alat pengukur yang akurat tetapi Anda tidak menggunakannya (masalah Fokus)
  • Alat pengukur yang akurat dan Anda melihat mereka, tetapi Anda tidak melakukan penyesuaian terhadap kontrol penerbangan (masalah Action) 
Dengan kata lain, ketiga elemen (Informasi, Fokus, dan Action) diperlukan untuk mencapai hasil yang baik. Bahkan , IFA juga dapat dinyatakan dengan persamaan :
I x F x A = R
Persamaan IFA ini juga mengakui bahwa ketiga faktor harus hadir dan seimbang untuk mencapai hasil yang optimal. Jika faktor apa saja yang hilang atau suboptimal akan sangat sulit untuk mencapai hasil yang baik.
Sementara itu, kami akan senang untuk membahas topik ini dengan Anda secara langsung di perusahaan Anda. Ini adalah salah satu topik mutlak perbaikan kinerja perusahaan yang jadi favorit kami - karena itu salah satu dari yang paling sederhana, paling kuat, dan efektif untuk meningkatkan kinerja. ( dikutip dari SHIFT Indonesia )

Sahabatku yang selalu berkah, mari kita raih hasil yang terbaik untuk meraih kehidupan yang berkah


Salam Sukses Berkah


Aditya Nugraha
Trainer Sukses Berkah
08569991346
7c9fb461

Selasa, 18 November 2014

Soft Skill untuk Lean Manufacturing

Banyak sahabat saya menanyakan kepada saya saat beralih profesi menjadi seorang trainer, saya banyak mempelajari soft skill untuk menyeimbangkan technical training yang saya berikan

Untuk menggerakan seseorang melakukan sebuah perbaikan, kita dapat membangun mentalnya untuk siap berubah. Terinspirasi tulisan Mark Graban di blognya yang berjudul More Trust, Less Fear, pakar Lean Wiljeana Glover mengemukakan tentang kebiasaan para praktisi dan pakar mengabaikan pentingnya arti soft skill dalam implementasi metode Lean di organisasi. Menurutnya, lebih mudah mendeskripsikan dan menonjolkan pentingnya kemampuan teknis dibandingkan soft skilluntuk kesuksesan implementasi Lean. Berikut beberapa alasannya:
Makna “Soft Skill” Masih Bias
Ketika mendengar kata “soft skill”, beberapa orang akan langsung terbayang mengenai sesuatu yang lunak, fleksibel, sulit diukur dan didefinisikan dengan pasti. Seperti ini:
SHIFT SSCX soft skill lean six sigma
Namun, menurut Glover, seharusnya inilah yang orang pikirkan ketika mendengar kata “soft skill” (fondasi yang kokoh untuk menopang bangunan di atasnya):
SHIFT SSCX soft skills lean six sigma foundation

Inilah dasar pemikiran Glover:
Soft skill” dapat dideskripsikan sebagai kemampuan sosial dan motivasional, perilaku dan kemampuan dari seseorang atau suatu kelompok untuk melaksanakan tugas. Kebiasaan yang berkembang di lingkungan profesional kita, menurut Glover, adalah menempatkan “soft skill” (seperti kepercayaan diri, integritas, keyakinan, empati, adaptabilitas, dan kemampuan kontrol diri) di tempat kedua setelah kemampuan teknis, alias kurang penting. Kenyataannya, para praktisi dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu telah menemukan bahwa ternyata soft skillmemiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja proses/pekerjaan apapun yang melibatkan manusia.
Contohnya, sistem sosioteknikal (STS) yang belakangan ini berkembang di organisasi menekankan pentingnya optimasi yang setara antara tugas atau lingkungan teknis dengan sistem sosial yang ada di organisasi. Sistem sosioteknikal sendiri dalam konteks pengembangan organisasi adalah pendekatan untuk perancangan kerja organisasional yang kompleks, yang membutuhkan interaksi antara manusia dengan teknologi di tempat kerja.
Sayangnya, dampak “soft skill” atas kesuksesan inisiatif Lean belum sepenuhnya dipahami.
Menurut opini Glover, mayoritas orang sudah memahami pentingnya soft skill, bahkan mereka paham bahwa soft skill kadang lebih penting dari kemampuan teknis. Namun implementasi dari pemahaman inilah yang masih sulit. Pasalnya, soft skill adalah sesuatu yang sulit untuk ditumbuh-kembangkan, diukur, dan sebagainya. Akibatnya, kita sering lebih memilih untuk mengabaikannya.
Penyebab kedua istilah soft skill sering dianggap telalu abstrak. Untuk mengatasinya, Glover menyarankan untuk menetapkan istilah-istilah untuk mendefinisikan kemampuan-kemampuan tersebut dalam bahasa organisasi walaupun definisi yang umum (seperti kepercayaan diri, integritas, dan sebagainya) sebaiknya tetap dipakai.
 dikutip dari SHIFT Indonesia

Senin, 03 November 2014

MEA Bencana atau Berkah ?

Asean Free Trade Area (AFTA) 2015 dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah di depan mata. Banyak peluang dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia menjelang AFTA dan MEA. Era perdagangan kawasan ASEAN (AFTA) yang bakal berlangsung mulai 2015, menjadi tantangan serius bagi perusahaan dalam mengoptimalisasi sumber daya, kinerja, sistem manajemen, dan teknologi informasi.
Para pemimpin negara-negara ASEAN telah sepakat untuk mentransformasi wilayah ASEAN menjadi kawasan bebas aliran barang, jasa, investasi, permodalan, dan tenaga kerja. MEA menggambarkan adanya perekonomian yang mengglobal di antara negara-negara ASEAN dan MEA dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing ekonomi di kawasan regional ASEAN.
Sedangkan AFTA, sejatinya merupakan kesepakatan diantara negara-negara ASEAN untuk membentuk kawasan bebas perdagangan. Tujuan utamanya untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan bisnis ASEAN di kancah dunia. Harapannya, jika AFTA sukses, negara-negara ASEAN bisa menjadi basis produksi dunia, seperti Cina. Coba cek koleksi barang elektronik anda di rumah. Berapa banyak yang berlabel ‘Made in China’?
Dengan adanya kebijakan perdagangan bebas AFTA ini, nantinya tidak akan ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%), ataupun hambatan non-tarif untuk negara anggota ASEAN. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA melalui penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.
Perkembangan terakhir terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015. Dengan adanya kebijakan-kebijakan terkait AFTA, tentu akan menyusul tantangan serta peluang yang akan dihadapi negara Indonesia, khususnya di sisi bisnis dan ekonomi. Pertanyaannya, siapkah kita?
Tantangan AFTA 2015 Bagi Indonesia
Sebelum membahas mengenai keuntungan, ada baiknya terlebih dahulu kita melihat tantangan yang ada, agar dapat mempersiapkan diri. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, tantangan-tantangan ini akan memberikan dampak khusus kepada pertumbuhan bisnis dan ekonomi Indonesia. Dengan mengetahuinya, kita akan mampu menentukan sikap dan melakukan persiapan.
Tantangan Inovasi Teknologi
AFTA menjadi tantangan serius bagi perusahaan dalam mengoptimalisasi teknologi informasi. Hal senada diungkapkan Presiden Direktur IBM Indonesia, Gunawan Susanto, Juni lalu. Salah satu tantangan yang sudah menanti dalam AFTA, kata Gunawan, yakni masuknya perusahaan teknologi dunia yang menyerang pasar di Indonesia. Untuk itu, perusahaan Indonesia harus mewaspadai.
“Perusahaan asing sudah mulai bikin warehouse di sini, produk e-commerce mereka juga sudah masuk, ini akan jadi ancaman bagi perusahaan kita,” ujar dia.
Gunawan mencontohkan datangnya aplikasi Uber, yang mulai mengusik pengusaha dan sopir taksi.  Hal itu, merupakan contoh nyata tantangan.
“Sekarang tren bisnis makin personal dan mobile. Perusahaan jualan produk sudah sangat personal dengan analitik sosial, untuk itu perusahaan harus bergerak. Jangan nunggu nanti, karena AFTA sudah tinggal tahun depan,” jelasnya.
Tantangan tersebut makin intens karena tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang telah menyadari pentingnya inovasi dalam teknologi dan informasi. Menurutnya, tren inovasi perangkat mobile, jejaring sosial, analitik data, dan komputasi awan menjadi tantangan perusahaan dalam era perdagangan AFTA.
“Perusahaan Indonesia sudah mulai memikirkan ke arah AFTA 2015. Beberapa level kepala bidang sebuah perusahaan sadar akan kunci inovasi teknologi,” jelas Gunawan. Ia menyatakan, selama beberapa bulan berdialog dengan beberapa pengambil keputusan di banyak perusahaan, mereka sudah mulai mengeksplorasi infrastruktur teknologi.
“Saya cukup terkejut, saat beberapa kepala komersil perusahaan mulai bertanya soal SaaS(software as a service) dan komputasi awan,” ungkapnya. Fakta tersebut menunjukkan makin luasnya kesadaran perusahaan akan pentingnya infrastruktur teknologi bagi peningkatan kinerja perusahaan.
Gunawan melihat, cara pandang perusahaan atas tantangan teknologi tidak jauh berbeda dengan gambaran perusahaan di tingkatan global. Menurut studi yang dilakukan IBM, tujuh dari 10 perusahaan yang disurvei memahami infrastruktur IT punya peranan penting dalam kompetisi atau mengoptimalisasi keuntungan dan pendapatan. Dari kebanyakan responden, 62 persen perusahaan sudah berencana meningkatkan belanja infrastruktur IT untuk 12 hingga 18 bulan ke depan.
Tantangan Perdagangan
Bukan rahasia umum bahwa Indonesia masih berpredikat sebagai negara pengimpor, alih-alih pengekspor. Mengapa Indonesia sampai saat ini masih sebatas sebagai pasar bagi produk dari negara-negara ASEAN yang lain?
Pertama, karena penduduk Indonesia yang saat ini berjumlah 231,3 juta jiwa merupakan 39% dari total penduduk ASEAN. Kelas menengah Indonesia saat ini juga berjumlah sekitar 100 juta orang. Tentu ini merupakan pasar yang menggiurkan bagi negara-negara ASEAN lain.
Kedua, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang saat ini sebesar 846 miliar dolar AS juga merupakan 40,3% PDB total negara-negara ASEAN. Ini juga merupakan indikasi pasar potensial yang terbesar.

Ketiga, masyarakat kelas menengah dan atas Indonesia sudah terkenal sebagai masyarakat yang konsumtif. Ini terlihat misalnya orang Indonesia rata-rata memiliki lebih dari satu smartphoneatau tablet. Berbeda misalnya dengan masyarakat Jepang yang terkenal dengan sifat hematnya. Indikasi yang jelas dari Indonesia sebagai pasar saja adalah selalu defisitnya neraca perdagangan internasional Indonesia dengan negara-negara ASEAN sejak tahun 2005.
Sebetulnya, pekerjaan rumah bagi para pengusaha di Indonesia adalah bagaimana memenangkan preferensi pasar atas produk asli Indonesia, baik pasar domestik, ASEAN, maupun internasional. Pengusaha dan produsen Indonesia dituntut terus menerus dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan bisnis secara efektif dan maksimal. Disinilah kualitas produk Indonesia diuji, dan perusahaan Indonesia harus bisa mengubah pola pikir dari “product oriented” menjadi “customer oriented” untuk memenangkan preferensi pasar.
Hal senada diutarakan Profesor Rika Fatimah, Ph.D., dari Universitas Kebangsaan Malaysia, yang menyoroti pentingnya mengembangkan pola pikir berwawasan MEA dan kesiapan kewirausahaan melalui social business. Rika mengatakan, “Ada 4 MEA mindset yang harus dikembangkan, yaitu: stakeholders, kesiapan menghadapi MEA 2015, kesiapan sumberdaya manusia, serta ketahanan dalam menjalankan kewirausahaan, di mana keempat faktor tersebut akan menopang social business yang merupakan salah satu model untuk mendukung kegiatan kewirausahaan.”
Namun bukan berarti Indonesia tinggal diam. Menurut Associate Profesor Ruhul Salim, Ph.D. dari Curtin Business School, Australia, Indonesia menempati posisi penting di MEA sebagai produsen otomotif terbesar kedua di ASEAN. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perusahaan Jepang dan Korea yang memproduksi kendaraan di Indonesia. Bahkan, perusahaan ternama General Motors mulai memproduksi kendaraan di Indonesia sejak 2013. Namun investasi semacam ini juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan infrastruktur yang baik.
“Pada masa krisis ekonomi global 2009, sektor otomotif Indonesia nyaris tidak tersentuh oleh efek krisis tersebut. Kemudian jika Indonesia ingin memimpin pasar ASEAN apa yang harus dilakukan? Hal ini tergantung pemerintah. Pemerintah Indonesia harus membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung implementasi AFTA dan MEA,” jelas Ruhul.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Indonesia punya keuntungan demografi, geografi, dan lainnya dan banyak sekali komiditi yang bisa diandalkan dan dipersiapkan untuk bersaing dalam AFTA. Bonus demografi adalah arti struktur penduduk Indonesia dari sisi usia adalah Piramida Penduduk Muda, Hal ini menunjukkan usia penduduk muda lebih banyak dari pada penduduk dewasa, jumlah penduduk bertambah dengan cepat.
Berdasarkan sensus tahun 2010 0leh BPS pusat, didapatkan piramida di atas, dengan ringkas piramida penduduk Indonesia adalah :
  1. 0-14 laki-laki 34.276.146 / wanita 33.094.836 (27,73%) atau 1,98% per 1 tahun usia
  2. 15-64 laki-laki 80.806.409 / wanita 80.065.855 (66,21%) atau 1,35% per 1 tahun usia
  3. 65 keatas laki-laki 6.504.559 / wanita 8.220.537 (6,06%)
Total    laki-laki 121.587.114 / Wanita   121.381.228 (100,00%)
Persentase usia yang masih bisa produktif adalah sebesar 66,21% dan per satu tahun usia pada usia muda adalah 1,98% lebih besar dari 1,35% pada usia produktif.
Perusahaan dapat memanfaatkan keuntungan demografis ini dengan mengembangkan kualitas sumber dayanya, mengiringi kuantitasnya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pendidikan akan memberikan angkatan kerja yang produktif dan mampu menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi.
Selain pendidikan dan pelatihan, komitmen karyawan bagi perusahaan juga sangat penting. Jangan sampai SDM yang memiliki potensi dan bakat lebih memilih untuk bekerja di perusahaan asing karena merasa di perusahaan asing mereka bisa bekerja lebih nyaman dan terjamin.
Hal ini disampaikan Setyabudi Indartono, Ph.D. yang merupakan pakar di bidang sumber daya manusia. Beliau mengatakan, “Perlakuan yang berbeda terhadap karyawan akan mempengaruhi perilaku dan kinerja mereka terhadap organisasi. Di samping itu perlu juga diperhatikan cara organisasi dalam mengatur sumber daya manusia agar karyawan memiliki komitmen terhadap organisasinya.”
Optimasi di bidang sumber daya dan kualitas produk akan secara signifikan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara penghasil produk, yang mampu menyediakan produk berkualitas bagi negara-negara di lingkup ASEAN maupun global. Dengan memaksimalkan potensi penyerapan produk Indonesia, kita akan bisa merasakan AFTA sebagai sebuah win-win solutionbagi kemajuan perekonomian Indonesia dan ASEAN.***RW

1000 Pekerja SMART

Terinspirasi dengan 10 tahun berkarya di tahun 2015, dengan bangga saya mempersembahkan sebuah program 1000 Pekerja SMART. Sebuah program inhouse training tanpa biaya yang akan diberikan oleh saya sendiri dengan profil sebagai berikut :





https://www.youtube.com/watch?v=4XFNmN84bOU